1. Bangun tidur
Kalau di SMA, selalu ada bel pagi yang membangunkan, atau mungkin pamong graha yang selalu membangunkan yang masih belum bangun. Setelah jadi mahasiswa, bangun nggak bangun jadi tanggungan sendiri. Kalau nggak pinter-pinter menset alarm atau nggak membiasakan diri bangun pagi bisa-bisa bangun terlambat, padahal untuk tahun pertama biasanya dapat jam pertama alias jam 7 pagi.
2. Bayar keperluan tempat tinggal
Kalau di SMA, segala kebutuhan bayar sudah menjadi satu dalam SPP, kurang uang tinggal telpon mami-papi. Tapi saat menjadi mahasiswa, terutama yang tinggal di rumah kontrakan dan kost, sudah harus mulai memperhatikan pembayaran listrik, kontrakan, air, dan sebagainya. Uang sudah mulai digunakan untuk keperluan macam-macam.
3. Jam belajar
Kalau di SMA, ada jam khusus yang diberikan, mulai dari jam 19.00 - 21.00 untuk belajar mandiri secara efektif. Saat di universitas, waktu belajar itu harus ditemukan sendiri, mungkin bisa waktu siang antar mata kuliah atau malam sampai pukul 23.00. Pokoknya segala waktu luang yang bisa dipikirkan hanya untuk belajar.
4. Jumlah mata pelajaran (mata kuliah)
Di SMA, kita bisa mempelajari bahkan sampai dengan 14 mata pelajaran seminggu. Saat kuliah, jumlah mata kuliahnya jauh lebih sedikit, bisa hanya 6 mata dan catatannya pun kadang bisa disatukan dalam satu binder. Tapi sedikitnya mata kuliah bukan jaminan waktu makin longgar. 1 jam pelajaran di universitas itu benar-benar bermakna "1 JAM a.k.a 60 menit", dan setiap 1 jam tatap muka dengan dosen harus diimbangi dengan 1 jam tugas/praktium dan minimal 1 jam belajar mandiri. Jadi, bila dalam seminggu ada 17 jam tatap muka, total belajar kita akan jadi minimal 51 jam per minggu.
5. Nilai dan praktikum
Nilai yang diberikan dengan rentang huruf (A sampai E dan T). Kalau di SMA, nilai 95 terlihat lebih baik dari nilai 81, tapi di universitas, keduanya bisa memiliki nilai A, dan biasanya satu dosen dengan yang lain batas nilainya berbeda. Untuk praktikum, penilaiannya lebih ketat. Terlambat 1-20 menit dapat mengurangi nilai 20%-50%, dan tidak ada "belas kasihan" untuk tindakan-tindakan menyimpang dalam praktikum, termasuk bila kita lupa mengerjakan tugas pendahuluan sebelum praktikum dimulai atau sikap plagiarisme teman sefakultas.
6. Untuk makan
Di SMA, makan selalu disediakan dan teratur waktunya. Saat kuliah, waktu makan harus diatur sendiri, tidak lupa menggunakan uang secara bijaksana dan memilih tempat makan yang ideal (bersih dan sehat). Sudah sering terjadi mahasiswa yang mengalami maag kronis, tifus, atau paratifus karena kurang memperhatikan hal tersebut.
7. Waktu tidur
Waktu tidur saat kuliah tidak selama di SMA. Kalau di SMA disarankan tidur sekitar pukul 22.00. Kalau saat kuliah tidur bisa hanya 3-4 jam sehari, terutama bagi yang memiliki tugas-tugas membangun proyek sederhana.Tempat untuk tidur pun tidak selalu nyaman.
8. Waktu luang
Kalau di SMA, waktu luang masih bisa diisi dengan kegiatan-kegiatan seperti olahraga, ekskul, bermain, bahkan kegiatan-kegiatan yang "aneh bin ajaib" pun bisa dilakukan, toh masih bisa belajar nanti-nanti. Tapi di kuliah, setiap seperseribu detik sangat berarti. Kalau dihitung-hitung selama seminggu, waktu luang seorang mahasiswa hanya sekitar 16 jam waktu longgar (alias 2 jam-an per hari), itu pun tanpa kegiatan ekskul. Kalau ditambah kegiatan ekskul plus KM (semacam OSIS-PKnya mahasiswa), bisa aja waktu luang hanya 2 JAM SEMINGGU. Nah lho!
9. Jadwal pelajaran dan kegiatan
Di SMA, setiap kelas jadwal pelajarannya pasti sama dan selalu seruangan. Tapi kalau kuliah, setiap mahasiswa jadwalnya bisa beda (kayak sistem sekolah di Amrik gituu...). Dalam satu kelas, bisa ada mahasiswa yang datang dari berbagai dosen wali. Pembagian ruangannya pun bisa beda-beda. Itu juga terjadi pada waktu praktikum, setiap mahasiswa waktu praktikumnya berbeda-beda. Kalau belum terbiasa, bisa saja kita salah masuk ruangan dan biasanya selalu dibarengi dengan tawa anak-anak di dalamnya.
10. Penyebaran Informasi
Kalau di SMA, penyebaran informasi tinggal pake "Ting...Tong...Ting...Tung...!!! Perhatian...." Tapi nggak setiap universitas menggunakan hal tersebut. Pengumuman nggak dateng sendiri, biasanya hanya berupa selebaran yg dirantingkan di dalam kelas, atau ditempel di papan pengumuman. Selain itu, pengumuman biasanya menggunakan JarKom (Jaringan Komunikasi - sistem berantai lewat teknologi) via email dan HP. Oleh sebab itu, bagi yang memiliki kegiatan dan banyak jalur koneksi selalu diharapkan mengaktifkan HP dan "AKTIF MENCARI TAHU" mencari informasi terkini. Ini juga berlaku untuk info beasiswa dan kumpul-kumpul biasanya.
11. Berpikir masa depan
Kalau di SMA, banyak yang mengira kalau masa depan itu dapat diraih dengan mudah (walaupun pada kenyataannya nggak seperti itu juga). Semua mengira kalau nggak berusaha dari sekarang nanti juga pasti ada bantuan datang.....Helllowww!!! Di universitas nggak selalu seperti itu. Kalau tidak dipersiapkan dari sekarang kita belum tentu dapat meraih yang diinginkan. Di universitas, "DROP OUT ITU NYATA" dan tidak lagi mengenal kata KORSA untuk sekedar meluluskan anak didiknya, dan universitas nggak akan turun pamornya hanya karena ada yang tidak lulus di sana. So, semua harus dipersiapkan sedini mungkin atau akan menyesal di akhir cerita.
12. Individualisme
Tidak seperti di SMA, yang diajarkan tentang rasa setia kawan dan moral, bahkan oleh gurunya, di universitas semuanya sudah dianggap dewasa. Jadi, semakin banyak mahasiswa cerdas di tempat itu, semakin tinggi tingkat individualismenya. Dan karena sudah dianggap dewasa, dosen sudah tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal mengenai masalah belajar mahasiswa secara individualis, yang penting materi tersampaikan dan kita mau menangkap atau tidak tinggal usaha kita sendiri. Oleh sebab itu, jangan malu bertanya, pahami diri sendiri....AKTIF MENCARI TAHU....jangan PASIF.....itu yang terpenting.
13. Nilai
Untuk pemberian nilai, sudah tidak lagi mengenal kata KATROL, NEPOTISME, KASIHAN, dsb. Nilai itu benar-benar hitam di atas putih. Kalo yang merasa jabatannya tinggi di universitas jangan harap nilai itu akan didongkrak dengan kepopularitasan kita, yang ada kita malah dicabut dari jabatan tersebut dan diganti oleh orang yang lebih konsukuen buat melaksanakan hal tersebut.
14. Primordialisme dan Eksklusivitas
Dua hal ini sepertinya sering mewarnai kehidupan SMA yang hasilnya adalah popularitas yang akan melejit di mata para petinggi. Hmm....tapi nanti calon-calon mahasiswa yang masih mempertahankan adat ini akan berhasil menjadi seseorang yang ANGKUH dan KUPER. Bagaimana tidak, bagi kita yang merasa eksklusif pasti menganggap orang lain lebih jelek, so kita juga gak bakal dapat info serta jaringan yang luas dengan mereka yang berada di luar range kita. Sedangkan bagi mereka yang PREMO, hmm tetap saja akan menjurus ke arah eksklusivitas. Boleh berkumpul dengan yang sudah pernah sejawat, tapi adakalanya kita dituntut untuk mencari teman dan kerabat dari berbagai lapisan, agar nantinya kita juga menjadi seseorang yang lebih mementingkan kepentingan umum ketimbang golongan. Ingat, primodialisme dan eksklusivitas erat hubungannya dengan NEPOTISME lho!
Nah, dari hal-hal tadi, ternyata banyak kan kesulitan saat mulai menjadi seorang mahasiswa. Kalau kalian beranggapan "Ahh...tidak sesulit yang di akademi....." OK, aku hargai pendapat itu. Tapi kalau menurutku, kesemuannya memiliki porsi kesulitan masing-masing yang tingkatnya relatif sama. Yang penting, setelah lulus nanti, calon-calon penerus masa depan bangsa harus tetap survive dan semangat menghadapi tantangan di depan.
03AC27E5-0293-1F54-E838-E252CC7EBE17
1.03.01