Pada suatu ketika ketika Roma masih berkilaukan emas kota tua, adalah seorang murid bersama gurunya yang bijaksana sedang berjalan-jalan di taman sekolah tempat murid dan pengajar itu saling mengajar dan diajar.
Kemudian, murid itu memalingkan wajah kepada gurunya sambil bertanya, "Guru, mengapa kita harus menuntut ilmu?"
Dengan suara yang menyejukkan sang guru menjawab pertanyaan lugu muridnya itu, "Kau membutuhkan ilmu, dan ilmu membutuhkan dirimu."
"Lalu, bagaimana kita bisa membutuhkan ilmu? Kita masih bisa seperti ini bukan karena kita punya ilmu kan guru?" tanya murid itu.
Sang guru mengajak murid yang haus akan jawaban itu ke sebuah sungai kecil yang mengalir di taman tersebut. Sang murid bertanya-tanya dan merasa heran, apa yang akan dilakukan gurunya. Namun, ia yakin bahwasang guru yang bijaksana tak akan pernah menyesatkan muridnya.
Tiba-tiba, sang guru menceburkan kepala muridnya ke dalam sungai. Untuk beberapa menit, murid itu tidak dapat bernapas. Pertanyaan yang kembali terlintas dalam benak sang murid, apa yang guru inginkan? Mengapa ia ingin membunuhku dengan cara seperti ini? Apa aku salah menanyakan hal semacam itu? Atau ia sedang merasa tidak enak hati sampai tega melakukan hal semacam itu?
Sang guru kembali mengangkat kepala sang murid. Dengan napas yang terengah-engah, murid itu mencoba mengambil napas yang segar, yang untuk beberapa saat tak dapat ia peroleh sebelumnya. Tak berapa lama kemudian, sang guru mengatakan kepada sang murid.
"Bukankah sangat nyaman saat kau memperoleh udara kembali? Jadikanlah ilmu seperti udara yang ingin kau hirup saat kau tenggelam di dalam air."
NB: Kilaunya ilmu lebih berarti dariapada segala macam kilau emas dan harta karun terpendam.........
Kemudian, murid itu memalingkan wajah kepada gurunya sambil bertanya, "Guru, mengapa kita harus menuntut ilmu?"
Dengan suara yang menyejukkan sang guru menjawab pertanyaan lugu muridnya itu, "Kau membutuhkan ilmu, dan ilmu membutuhkan dirimu."
"Lalu, bagaimana kita bisa membutuhkan ilmu? Kita masih bisa seperti ini bukan karena kita punya ilmu kan guru?" tanya murid itu.
Sang guru mengajak murid yang haus akan jawaban itu ke sebuah sungai kecil yang mengalir di taman tersebut. Sang murid bertanya-tanya dan merasa heran, apa yang akan dilakukan gurunya. Namun, ia yakin bahwasang guru yang bijaksana tak akan pernah menyesatkan muridnya.
Tiba-tiba, sang guru menceburkan kepala muridnya ke dalam sungai. Untuk beberapa menit, murid itu tidak dapat bernapas. Pertanyaan yang kembali terlintas dalam benak sang murid, apa yang guru inginkan? Mengapa ia ingin membunuhku dengan cara seperti ini? Apa aku salah menanyakan hal semacam itu? Atau ia sedang merasa tidak enak hati sampai tega melakukan hal semacam itu?
Sang guru kembali mengangkat kepala sang murid. Dengan napas yang terengah-engah, murid itu mencoba mengambil napas yang segar, yang untuk beberapa saat tak dapat ia peroleh sebelumnya. Tak berapa lama kemudian, sang guru mengatakan kepada sang murid.
"Bukankah sangat nyaman saat kau memperoleh udara kembali? Jadikanlah ilmu seperti udara yang ingin kau hirup saat kau tenggelam di dalam air."
NB: Kilaunya ilmu lebih berarti dariapada segala macam kilau emas dan harta karun terpendam.........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar